Tampilkan postingan dengan label Makanan Terbaik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makanan Terbaik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juli 2015

5 Camilan Sehat untuk Anak Saat Cuaca Panas

Jakarta - Musim panas tampaknya segera datang. Selama Lebaran dan beberapa hari setelahnya, panas begitu terasa menyengat di Ibu Kota Jakarta. Akibatnya, tubuh selalu lapar setelah berlama-lama di bawah sinar matahari.

Di bawah ini ada sejumlah camilan sehat untuk anak agar dapat tetap fit dan bersenang-senang selama cuaca panas, seperti dikutip dari Times of India, Rabu (22/7/2015)

1. Jus jeruk beku
Masukan jus jeruk ke dalam kulkas, biarkan dingin tapi tidak sampai beku. Jus jeruk ini bisa memenuhi kebutuhan cairan si buah hati.

2. Es krim banana
Cukup mudah membuatnya. Yang diperlukan hanya buah pisang, es krim rasa apa saja, kacang yang sudah dihancurkan di dalam mangkuk, cokelat chips. Setelah itu, campur semua bahan jadi satu.

3.  Pisang selai kacang
Agar lebih sehat, campurkan pisang dan selai kacang ke dalam semangkuk sereal.

4. Smoothie
Masukan yoghurt, buah-buahan segar, jeruk, pepaya, stroberi, anggur, dan es ke dalam blender. Agar anak mau menyentuhnya, sajikan ke dalam plastik seperti es mambo.

5. Buah celup
Cairkan dark cokelat agar anak dapat menyelupkan buah-buahan yang mereka sukai ke dalamnya.

sumber - Liputan6.com

Selasa, 21 Juli 2015

Bolehkah Langsung Olahraga Setelah Makan?

Jakarta - Bagi sebagian besar orang, berolahraga dengan perut penuh bisa menyebabkan reflux (asam lambung naik), cikutan (tersedak), mual, dan muntah, ucap Dr Daniel Vigil, profesor klinik ilmu kesehatan di University of California, Los Angeles.

Namun, ada sebagian orang lainnya yang bisa makan banyak dan tidak mengalami masalah ketika langsung berolahraga, lanjutnya.

Penelitian menunjukkan, makan sebelum berolahraga tidaklah ideal. Menurut Dr Daniel, waktu terbaik untuk berolahraga adalah sebelum makan. Asupan nutrisi setelah berolahraga membantu pemulihan dan meminimalisir kerusakan otot, jelas Dr Daniel.

Meski demikian, jika jadwal Anda mengharuskan Anda makan terlebih dahulu, dia menyarankan untuk menunggu sekitar satu atau dua jam setelah makan untuk berolahraga. Jeda tersebut memberi cukup waktu bagi perut untuk kembali dalam keadaan kosong, dikutip dari laman Today, Selasa (21/7/2015).

Hal itu tidak berlaku jika Anda makan secara berlebih.

"Jika Anda memakan makanan yang sulit dicerna, makanan tersebut akan bertahan lebih lama di perut," jelas Leslie Bonci, direktur nutrisi olahraga di University of Pittsburgh Medical Center. "Aturan umum bagi para atlet saya adalah menunggu satu jam sebelum berolahraga.Dan sebaiknya asupan makanan yang masuk ke dalam perut hanya sejumlah kepalan tangan, bukan sebesar bola sepak," lanjutnya.

Bonci menyarankan untuk menyesuaikan asupan makanan dengan jenis olahraga yang akan dilakukan. Misalnya, jika Anda akan lari, minum sekitar 20 ons (591 ml) cairan satu jam sebelumnya. Makan makanan berkarbohidrat dalam porsi kecil, seperti pisang, sereal kering, atau granola bar.

Jika Anda akan melakukan yoga dengan suhu panas seperti bikram, sebaiknya menjaga tubuh tetap terhidrasi. "Itu tidak memerlukan energi sebanyak berlari, jadi Anda bisa mengonsumsi 8 ons (237 ml) jus dan 12 ons (355 ml) air," ujarnya.

"Jika Anda akan berlatih kekuatan, dan tidak hanya mengangkat beban, melainkan juga berenang, penting untuk mendapat asupan protein. Saya tidak menyarankan makan satu pon bacon dan belasan telur. Maksimum hanya sekitar 20 gram protein. Itu setara dengan 8 ons (237 ml) yoghurt atau 6 ons (177 ml) youghurt dengan taburan sereal," tandasnya.

sumber - Liputan6.com

Senin, 13 Juli 2015

3 Jenis Karbohidrat yang Boleh dan Dilarang untuk Dimakan

Jakarta - Jenis dan jumlah karbohidrat yang dikonsumsi memengaruhi keberhasilan kita dalam menurunkan kadar lemak. Dan kita dianjurkan untuk menghindari konsumsi karbohidrat dengan nilai GI (Glicemic Index) cukup tinggi.

GI adalah metode pengukuran cepat atau lambatnya laju karbohidrat masuk ke dalam darah dalam bentuk gula. Semakin cepat laju karbohidrat masuk ke dalam darah semakin tinggi nilai GI-nya, sehingga semakin manis pula rasa karbohidrat tersebut yang membuat semakin tinggi reaksi pankreas dalam memproduksi insulin yang membuat kita cepat merasa lapar dan keinginan untuk menumpuk lemak.

"Semakin lambat laju karbohidrat tersebut, semakin rendah pula reaksi pankreas dalam memproduksi insulin, yang membuat semaki lama tubuh merasa lapar dan semakin rendah pula keinginan untuk menumpuk lemak," kata Ade Rai dalam buku berjudul Bakar Lemak Tanpa Lapar Tanpa Lemas dikutip Health Liputan6.com pada Minggu (12/7/2015)

Berikut contoh karbohidrat dengan nilai GI tinggi, sedang, dan rendah.

1. GI tinggi: gula pasir, bubuk glukosa, dektrosa, dekstrin, nasi putih, roti putih, mie, bihun, kwetiaw, kentang, tepung terigu, sirop, madu, maizena, jagung, buah pisang, semangka, durian, mangga manis, manggis, dan jeruk manis.

2. GI sedang : apel, beras merah, buah prunes, mangga muda, ubi/singkong, buah pepaya.

3. GI rendah : sayur-sayuran hijau, wortel, yoghurt, susu skim (rendah lemak), bengkoang, brokoli, kembang kol, selada, tomat, agar-agar tanpa gula, kacang panjang, buncis, dan timun.

Mengonsumsi mayoritas karbohidrat dengan nilai GI yang sedang dan rendah dalam pola makan sehari-hari membantu kita menjaga penumpukan lemak lebih lanjut. Sekaligus membantu kita terhindar dari overeating atau makan secara berlebihan.

sumber - Liputan6.com

Senin, 15 Juni 2015