Tampilkan postingan dengan label Penyakit Jantung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit Jantung. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Juni 2016

3 Kebiasaan Buruk Perusak Diet

Salah satu cara untuk menurunkan berat badan adalah dengan cara diet atau pola makan yang sehat. Namun apabila diet sehat yang dilakukan tidak teratur dan malah sering melanggar pantangan, maka hasilnya pun tidak maksimal, bahkan diet tersebut bisa dikatakan gagal. Terkait pantangan, ada kebiasaan-kebiasaan buruk tertentu yang dapat mempengaruhi program diet yang sedang dijalani. Apa saja itu? Berikut adalah beberapa kebiasaan buruk yang dapat merusak program diet anda, diantaranya adalah :

1. Minum minuman beralkohol
Minum alkohol adalah salah satu kebiasaan buruk yang tidak hanya dapat mengganggu kesehatan secara keseluruhan melainkan juga dapat merusak program diet anda. Alkohol dapat mengubah dan memicu hormon lapar sehingga membuat anda mengonsumsi lebih banyak makanan. Di samping itu, alkohol juga dapat mempengaruhi area otak lainnya yang cenderung akan membuat anda makan lebih banyak dari biasanya. Alkohol juga diketahui dapat mengganggu waktu tidur yang dapat membuat anda kurang tidur. Kurang tidur pada akhirnya juga dapat mempengaruhi program diet anda.

2. Kurang tidur
Seperti yang baru dijelaskan, kurang tidur memiliki hubungan dengan diet yang dilakukan. Kurang tidur dapat meningkatkan hormon lapar dan cenderung membuat seseorang mengonsumsi makanan lebih banyak dari biasanya. Penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang kurang tidur sering merasa lebih lelah dan umumnya berakhir dengan mengonsumsi lebih banyak makanan.

3. Terlalu banyak menonton Televisi
Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang menghabiskan waktu terlalu lama untuk menonton televisi cenderung mempunyai tubuh yang lebih gemuk. Hal ini disebabkan karena mereka kurang bergerak. Kondisi ini akan lebih buruk jika makan sambil menonton televisi, karena dapat membuat seseorang makan lebih banyak dari porsi yang seharusnya. Menonton televisi boleh-boleh saja, namun sebaiknya jangan terlalu lama dan imbangi pula dengan aktivitas yang cukup agar tubuh lebih banyak gerak.

Itulah beberapa kebiasaan buruk yang tanpa anda sadari bisa merusak program diet. Apabila ingin program diet sehatnya sukses, sebaiknya waspadalah terhadap hal-hal tersebut.


via Merdeka | image : blog.lpinnovations.com

Jumat, 24 Juli 2015

Kesehatan Gigi dan Mulut pada Penderita Hipertensi

Penyakit tekanan darah tinggi, dalam istilah medis disebut hipertensi, adalah salah satu masalah kesehatan yang paling banyak diderita di seluruh dunia.

Di Amerika, diperkirakan sebanyak 67 juta orang menderita hipertensi. Penyakit ini sering disebut “silent killer” karena dapat berakibat fatal dan berujung kepada kematian, namun tidak menunjukkan gejala yang khas/berat sehingga banyak penderita yang tidak menyadarinya.

Prevalensi hipertensi di Indonesia pun cukup tinggi. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis.

Dari hasil pengukuran tekanan darah pada subyek berusia 18 tahun ke atas ditemukan prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31,7%, namun hanya 7,2% diantaranya yang sudah mengetahui memiliki hipertensi,  dan hanya 0,4% kasus yang terkontrol.

Penderita hipertensi memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap penyakit jantung, stroke, gagal ginjal dan kebutaan.

Dalam kondisi normal, tekanan darah saat jantung memompa darah (tekanan sistolik) adalah < 120 mmHg, sementara tekanan darah saat jantung istirahat (tekanan diastolik) adalah < 80 mmHg.
Pada penderita hipertensi, terjadi peningkatan tekanan darah secara abnormal, yaitu tekanan sistolik > 140 mmHg dan diastolik > 90 mmHg.

Jika dahulu hipertensi lebih banyak diderita oleh orang lanjut usia, saat ini semakin banyak kasus hipertensi yang terjadi pada kelompok usia produktif (di bawah 50 tahun). Mengingat tingginya prevalensi penyakit ini di masyarakat dan sebagian besar penderita tidak menyadarinya, maka hal ini patut mendapat perhatian lebih dari tenaga kesehatan, tak terkecuali dokter gigi.

Kecemasan yang biasa dialami pasien saat akan menerima perawatan gigi dapat mempengaruhi tekanan darah. Dengan komunikasi yang terjalin dengan baik antara dokter gigi dan pasien, diharapkan pasien menjadi tenang dan nyaman. Selain itu, prosedur perawatan yang memakan waktu mungkin dapat dibagi menjadi beberapa sesi, supaya pasien tidak duduk terbaring terlalu lama di dental chair.

Pasien dengan hipertensi yang tidak terkontrol beresiko untuk mengalami perdarahan paska pencabutan gigi. Hal ini berkaitan dengan obat bius yang digunakan umumnya mengandung vasokonstriktor (agar efek obat bius bertahan lama) yang berefek menyempitkan pembuluh darah, sehingga tekanan darah semakin meningkat. Hal ini dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah kecil dan terjadi perdarahan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan tekanan darah sebelum tindakan pencabutan dilakukan. Jika tekanan darah pasien tinggi, pencabutan gigi sebaiknya ditunda dan pasien dirujuk ke ahli penyakit dalam terlebih dulu untuk mengontrol tekanan darah.

Obat-obatan anti hipertensi dapat mempengaruhi kondisi rongga mulut. Beberapa jenis obat menyebabkan mulut kering dan menimbulkan perubahan sensasi pengecapan, dan obat lainnya seperti Ca-channel blockers menyebabkan pembesaran dan pembengkakan gusi. Kurangnya volume air liur pada mulut yang kering  dapat menyulitkan saat bicara dan mengunyah serta mempermudah pertumbuhan bakteri dan jamur. Dengan demikian, selain kontrol rutin ke ahli penyakit dalam, pasien penderita hipertensi juga perlu mengontrol kesehatan rongga mulut secara rutin ke dokter gigi.

sumber - klikdokter.com

Minggu, 19 Juli 2015

Meski Cuma Hisap 5 Batang Rokok, Penyakit Jantung Mengintai

London - Banyak sedikitnya rokok yang dihisap dalam sehari tetap berpengaruh dalam meningkatkan risiko terkena penyakit jantung. Meski Anda hanya merokok sesekali ketika berinteraksi sosial saja, risiko terkena penyakit jantung tetap tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan yang tidak merokok.

Biasanya perokok yang menghisap batang rokok dalam jumlah sedikit pada perempuan. Menurut HealthDay, paling tidak ada seperlima wanita yang merokok kurang dari lima batang sehari.

"Tetap saja merokok dalam jumlah sedikit tiga kali lipat berisiko seumur hidup kena penyakti jantung. Upaya penjelasan bahaya ini harus disampaikan kepada kelompok wanita muda yang senang merokok dalam jumlah sedikit," terang spesialis paru Lenox Hill Hospital di New York City, Amerika Serikat, Len Horovitz.

Sayangnya, risiko masalah kesehatan ini sering diabaikan oleh wanita perokok seperti ini karena mereka merasa bukan perokok sesungguhnya. Lalu, perokok ini pun bisa meningkat menjadi perokok berat seperti ditulis dalam Jurnal Preventing Chronic Disease.

Fakta menarik lain dalam penelitian ini, cukup dengan menghisap satu batang rokok setiap hari risiko kanker paru-paru pada wanita meningkat dikutip dari Daily Mail (Minggu, 19/7/2015).

sumber - Liputan6.com

Rabu, 08 Juli 2015

Kurangi Resiko Penyakit Jantung dengan Berjalan Kaki

Penyakit jantung adalah salah satu penyakit yang sering mengancam manusia. Sebenarnya, penyakit jantung dan jenis penyakit kardiovaskular lainnya bisa dicegah dengan cara yang sederhana, yakni dengan rutin jalan kaki. Hal ini juga senada dengan apa yang dikatakan Hippocrates, seorang dokter asal Yunani, “jalan kaki adalah teman terbaik manusia”. Namun demikian, untuk pengaplikasiannya dibutuhkan kesadaran dari setiap individu itu sendiri, dan ini tidak terjadi pada setiap orang.

Jalan Kaki Selama 30 Menit = Latihan Aerobik

Menurut Dr Kathryn Taubert dari World Heart Federation, kesadaran merupakan langkah awal untuk kesehatan jantung. Berjalan kaki adalah hal yang sederhana, sama sederhananya dengan menghitung asupan kalori yang kita makan, dan setiap orang seharusnya bisa melakukannya.

Sebuah survei dilakukan mengenai kebiasaan orang dewasa yang rutin jalan kaki di 6 negara yakni Inggris, Spanyol, India, China, Brasil, dan Amerika Serikat. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa ada 55 persen orang yang melakukan jalan cepat di bawah 30 menit setiap harinya. Padahal, jalan kaki selama 30 menit sama dengan latihan aerobik yang bermanfaat dalam mengurangi risiko penyakit jantung.

Hasil temuan lainnya yang cukup menarik perhatian adalah bahwa 1 dari 3 orang dewasa di Inggris dan AS diketahui tidak memperhatikan lama waktu berjalan mereka setiap harinya dibandingkan dengan 1 dari 6 orang dewasa di India. Selain itu, orang-orang di Inggris dan AS juga berjalan kaki dengan kecepatan yang lebih rendah dibandingkan dengan orang-orang di negara berkembang.

Beberapa penelitian memang telah membuktikan bahwa jalan kaki dapat meningkatkan kesehatan. Namun, kecepatan ketika berjalan itulah yang menjadi kuncinya. Menurut Cardiovascular Institute, jalan kaki sama seperti latihan aerobik selama 30 menit, dan aktivitas ini merupakan cara paling mudah untuk mencegah penyakit kardiovaskular.

Berjalan sejauh 4 hingga 6 kilometer beberapa hari dalam seminggu selama 30-60 menit sangat bermanfaat bagi tubuh, diantaranya adalah oksigen akan tersuplai lebih banyak ke berbagai organ tubuh, meningkatkan sirkulasi darah, dan membantu memperkuat jantung. Selain mengurangi penyakit kardiovaskular, membakar kalori, dan meningkatkan harapan hidup, jalan kaki juga dinilai memberikan manfaat lebih baik bagi jantung dibandingkan dengan bentuk latihan intensif lainnya yang dilakukan sehari-hari. Jalan kaki juga merupakan aktivitas ringan yang minim risiko akan cidera.

Presiden World Heart Federation, Dr Srinath Reddy mengatakan “kakimu dapat membawa jantung jadi lebih sehat”. Maka dari itu, sebelum penyakit kardiovaskular menyerang, rutinlah jalan kaki agar jantung tetap sehat dan kuat. Semoga bermanfaat.

sumber - JPNN | image - artikelkesehatan99.com

Senin, 29 Juni 2015

5 Faktor yang Dapat Melawan Penyakit Jantung

Penyakit jantung dapat dipulihkan tanpa operasi dan tanpa obat dengan lima langkah sederhana, ujar Steven Masley, MD. Dia menguraikan perencanaan yang inovatif dalam buku terlarisnya, “The 30-Day Heart Tune-Up.”

Dr. Masley, anggota dari American Heart Association dan pemenang penghargaan pendidik, mengatakan bahwa penelitian dan pengalamannya menunjukkan bahwa pemikiran konvensional tentang kesehatan jantung (kolesterol adalah pencetus utama penyakit jantung), benar-benar salah.

Faktor-faktor yang dapat meminimalkan risiko penyakit jantung

Ia mengatakan bahwa lebih dari 100 pasiennya telah berhasil membuat jantung mereka lebih muda dengan menggunakan metodenya, bergantung pada pola makan dan perubahan gaya hidup. Menurut Dr. Masley, pasien-pasien tersebut dapat memulihkan penyakit jantungnya dengan mengikuti apa yang ia juluki sebagai faktor 5 F yaitu : Fiber (serat), Fish (ikan), Food Nutrients (nutrisi makanan), Fitness (kebugaran), dan Fat (lemak).

1. Meningkatkan asupan serat
Jika anda ingin mengatasi penyakit jantung yang ada, meningkatkan jumlah asupan serat makanan adalah faktor ‘yang paling penting’.

Dia merekomendasikan serat larut, yang ditemukan dalam kacang-kacangan (beans), kacang-kacangan (nuts), gandum, sayuran, dan buah-buahan. Ia merekomendasikan untuk mengkonsumsi lima cangkir buah-buahan dan sayuran setiap hari, bersama dengan setengah cangkir kacang-kacangan (beans) dan segenggam kacang (nuts).

Buah-buahan dan sayuran yang baik untuk jantung adalah yang berwarna cerah seperti hijau, merah cerah, dan kuning karena sangat kaya akan antioksidan anti-penuaan. Tomat, jeruk, anggur merah, brokoli, paprika, kale, dan bayam merupakan beberapa diantaranya.

2. Makan lebih banyak ikan
Makan ikan adalah hal yang penting karena ikan kaya akan asam lemak omega-3. “Ikan dapat membantu mengurangi denyut jantung tidak teratur, kekakuan darah (yang dapat menyebabkan serangan jantung penyebab pembekuan darah), dan trigliserida,” katanya.

Dr. Masley merekomendasikan mengkonsumsi ikan air dingin seperti salmon atau trout setidaknya tiga kali seminggu karena ikan-ikan tersebut mengandung ‘lemak baik’ yang tinggi dan kemungkinan kecil terkontaminasi dengan merkuri. Suplemen atau kapsul minyak ikan berkualitas tinggi bisa menjadi alternatif jika anda tidak mengkonsumsi ikan yang cukup.

3. Meningkatkan kadar gizi
Makan makanan yang sehat akan memberikan sejumlah vitamin dan nutrisi yang cukup. “Suplemen juga bisa memberikan manfaat yang baik bagi kesehatan jantung secara substansial bahkan jika anda telah makan makanan yang bergizi, olahraga secara teratur, dan mengelola stres,” katanya.

Dia merekomendasikan untuk mengkonsumsi multivamin yang seimbang setiap harinya meliputi magnesium (400 mg), vitamin D (2.000 mg), dan vitamin K (250 mcg). Orang-orang dengan darah yang encer harus berkonsultasi dengan dokter mereka terlebih dahulu sebelum meningkatkan asupan vitamn K, katanya.

4. Mengurangi lemak tubuh
Obesitas merupakan faktor risiko jantung yang jelas. Oleh karena itu, mengatasi lemak tubuh juga berarti mengatasi penyakit jantung, kata Dr Masley.

Kelebihan lemak tubuh tidak hanya meningkatkan kolesterol, tekanan darah, dan kadar gula darah, tetapi juga menghasilkan senyawa inflamasi, dan ini, pada gilirannya akan mempercepat pembentukan plak di arteri koroner. “Peradangan menyebabkan darah lengket, yang dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke,” katanya.

5. Meningkatkan kebugaran
“Orang yang berolahraga secara teratur memiliki risiko 40 persen lebih sedikit untuk terkena serangan jantung, stroke, dan kasus kematian mendadak,” kata Dr Masley. Latihan berat sangat penting untuk pencegahan penyakit jantung.

“Arteri koroner anda seperti halnya otot-otot yang harus dilatih atau digerakkan agar berfungsi optimal.”

Sebagian dokter menyarankan kepada pasiennya untuk berolahraga yang ringan saja seperti berjalan kaki singkat setiap harinya untuk kesehatan jantung. Namun jika ingin melawan penyakit jantung, olahraga yang dilakukan haruslah intens. Dua puluh menit berjalan kaki kurang efektif untuk memotong risiko penyakit jantung.

Dia merekomendasikan latihan aerobik, latihan kekuatan, dan peregangan untuk fleksibilitas, dengan intensitas dan panjang disesuaikan dengan tingkat kebugaran seseorang.

sumber - Newsmaxhealth | image : socialmoms.com